Gelora Tausiyah Kebangsaan Untuk Indonesia
Semarang, Danrem 073/Mkt beserta Ibu menghadiri Tausiyah Kebangsaan di Kawasan Tugu Muda Semarang. Senin (14/8/2017) malam
Kegiatan Tausiyah Kebangsaan diselenggarakan
dalam rangka memperingati HUT RI ke-72 itu dipimpin ulama kharismatik asal
Pekalongan, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya. Nampak hadir bersama
ribuan massa adalah Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo; Gubernur Jateng,
Ganjar Pranowo; Kapolda Jateng, Irjen (Pol) Condro Kirono; dan Pangdam
IV/Diponegoro, Mayjen TNI Tatang Sulaiman.
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo membakar semangat para santri dan warga
yang berkumpul di kawasan Tugu Muda Semarang. Gatot menjelaskan pentingnya
peran ulama dalam kemerdekaan Republik Indonesia.
Ia bercerita mulai dari sejarah para ulama menggerakkan santri-santrinya dalam
berbagai peristiwa perjuangan bangsa. Gatot juga menekankan agar para anggota
TNI tidak 'sok-sokan' karena TNI baru lahir setelah Indonesia merdeka.
"Jadi yang usir penjajah itu bukan TNI, tetapi para ulama dan tokoh agama
berbagai agama," kata Panglima TNI,.
"Indonesia merdeka 17 Agustus, TNI lahir 5 Oktober. Jadi TNI jangan
sok-sokan," imbuhnya.
Gatot mengaku kagum dengan para
ulama karena santun dan juga berani serta mampu menggerakkan massa demi mendapatkan
kemerdekaan. Bahkan ulama menberikan andil sangat banyak dalam perumusan UUD
1945 dan Pancasila.
Oleh karena itu Gatot juga menyampaikan keheranannya terhadap fenomena orang
yang mengaku ulama namun ingin mengganti Pancasila yang sudah diperjuangkan
para ulama terdahulu, bahkan dengan bahasa kasar.
"Jadi alangkah anehnya jika tiba-tiba muncul ulama dengan pakaian ulama
yang bahasanya ingin merubah Pancasila. Aneh. Saya katakan pasti itu bukan
ulama Indonesia, ulama luar yang dibayar untuk merusak Indonesia, atau orang
Indonesia yang pura-pura ulama, membohongi rakyat, dibayar untuk merusak
rakyat," tegas Panglima TNI.
Ia pun menegaskan agar jangan mau terpecah belah dengan
provokasi dan menjaga apa yang sudah diperjuangkan oleh para ulama terdahulu.
"Dunia mengakui ibadah ramadan teraman di dunia ada di Indonesia. Tapi ada
yang tidak senang, maka berusaha memecah belah, memasukkan aliran-aliran lain.
Jangan terporvokasi," pungkas Panglima TNI.
Di penghujung acara, panitia menghidangkan 2.500 nampan berisi nasi kebuli.
Setiap nampan disuguhkan untuk dinikmari oleh 5 orang peserta pengajian.
( Penrem073/Mkt )


