Kendaraan TNI Korem Salatiga Antar Pelajar Ke Sekolah
Salatiga, Dampak dari aksi mogok massa para sopir angkutan umum di kota salatiga selama beberapa hari ini membuat roda transport di kota yang dijuluki Indonesia Mini ini agak lumpuh, hal ini sangat dirasakan oleh masyarakat yang biasa menggunakan roda transport umum.
Kejadian mogok ini paling banyak dirasakan oleh para siswa-siswi sekolah yang berada di Kota Salatiga ini mereka mengalami hambatan untuk sekolah, agar para pelajar bisa melaksanakan kegiatan sekolah seperti biasanya. Danrem 073/Mkt Kolonel Inf Joni Pardede, S,Sos,M.M memerintahkan kepada jajaranya yang berada di Salatiga untuk membantu mengangkut para siswa berangkat ke sekolah. Kendaraan baik truk, bus dari Makorem Salatiga maupun dari Kodim Salatiga dan instansi yang lain berkumpul di Bundaran Tamansari Salatiga untuk mengangkut para siswa yang mau sekolah.
Kegiatan ini bertujuan supaya para siswa siswi bisa melaksanakan sekolah seperti biasanya karena mereka adalah para generasi penerus bangsa yang harus kita jaga. Selain itu TNI juga berpedoman kepada 8 wajib TNI yaitu point yang kedelapan senantiasa menjadi contoh dan mempelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat sekelilingnya
Sebagai informasi sebelumnya Tidak kurang dari 400 angkutan kota yang terdiri atas angkutan kota angkutan prona dan taksi, diparkir menutupi Bundaran Tamansari lebih dari tiga jam mulai pukul 08.00-11.30, Senin (21/8). Aksi awak angkutan menutup ikon Kota Salatiga tersebut, sebagai demo lanjutan menolak beroperasinya ojek online di Kota Salatiga. Akibat aksi penutupan Bundaran Tamansari, kendaraan dari arah Jalan Diponegoro, Jalan Pattimura, dan Jalan Pemuda, tidak bisa masuk ke Jalan Jenderal Sudirman. Mereka harus memutar melewati jalan lainnya.
Dialog berlangsung di rumah dinas wali kota yang berada tidak jauh dari Bundaran Tamansari. ”Kami secara tegas tetap menolak beroperasinya gojek. Wali Kota sudah jelas melarang gojek beroperasi, tetapi kenyataan mereka hingga saat ini tetap beroperasi, meski tidak berseragam,” kata Agus Siswanto.
Manajemen juga diminta menutup aplikasi gojek dan goride, hingga adanya kesepahaman dengan pemangku jasa transportasi di Kota Salatiga, yakni Organda, Ipas, gojek konvensional, paguyuban becak, dan dokar. Gojek juga diminta tidak membuka kantor perwakilan sebelum mendapat izin sesuai dengan ketentuan yang berlaku. ”Betul kami tetap melarang gojek beroperasi, sampai ketentuan tersebut dipenuhi,” tegas Wali Kota.
Adapun aksi demo awak angkutan tersebut merupakan aksi yang ketiga. Aksi pertama pada Selasa (18/7), dengan menemui Wali Kota di rumah dinas. Merasa belum puas, pada Rabu, (26/7), awak angkutan kota berdemo menutup Jalan Letjen Sukowati atau tepatnya di depan Balai Kota dan Gedung DPRD.


